Cobain LiveWriter
Sudah lamaa sekali tidak menulis lagi di Breadcrumbs. Padahal banyak ‘remah-remah’ (breadcrumbs) yang tersisa :-)
Sudah lamaa sekali tidak menulis lagi di Breadcrumbs. Padahal banyak ‘remah-remah’ (breadcrumbs) yang tersisa :-)
Baru liat hasil karya Ruben untuk kelas agama sekolahnya.
Agak tekesan jg dengan tulisan “I want to go to Sunday school” di bagian Dreams (seharusnya sebelah kiri itu My hopes dan sebelah kanan My Dreams).
Ruben mungkin bikin tulisan ini karena di “prompt” oleh gurunya, tapi ‘impian’ itu terasa sekali untuk kami, ortunya. Dia memang masuk Sekolah Minggu (SM), tapi dia sejujurnya tidak bisa mengerti penuh kegiatan di kelas SM.
Metode pengajaran di SM ditujukan untuk anak-anak biasa (atau pakai istilah normal deh), bukan untuk anak berkebutuhan khusus.
Jangan salah sangka dulu, ini bukan kesalahan gereja atau pengurus SMnya Ruben; atau bukan berarti mereka sengaja melewatkan anak-anak berkebutuhan khusus. Tapi SDM gereja dan pengurus SM memang terbatas. Apalagi pengajar SM itu adalah sukarelawan jemaat gereja yg terpanggil untuk mengajar. Mereka sudah memberikan waktu mereka (God bless Sunday school teachers).
Jadi di kelas SM Ruben lebih sering duduk diam (atau sering jalan-jalan) selama guru SM bercerita. Kelihatan dia tidak menangkap cerita-cerita dari guru SM. Dia bisa ikut partisipasi kalau kelas mulai menyanyi atau ada kegiatan menggambar/mewarnai. Makanya sering sekali Ruben protes kalau diajak ke Sekolah Minggu.
Oleh karena itu, My Dreams ‘to go to Sunday School’ menyentuh buat saya.
Because it is our, Ruben’s parents, dream also…
Ini status FB saya malam ini: “Ani cerita nonton lagi video Ruben waktu awal-awal terapi. Ani komentar: ‘gak berasa, udah 7 thn gw nungguin Ruben di Mandiga!’ Iya ya… udah selama itu Ruben di Mandiga. He practically grew up there! Bahkan Orin pun jadi ‘muka lama’ di situ…. hehehe.
Here’s to MANDIGA! A SMALL SCHOOL THAT FILLS A BIG PLACE IN OUR FAMILY’S HEART :)”
Dari status inilah refleksi (sangat) pendek ini dimulai.
Melihat ke belakang, dalam perjalanan kehidupan keluarga kami
…adalah menikmati berkat berkelimpahan
…adalah belajar melihat berkat yang datang melalui kesulitan dan tantangan
…adalah merasakan pimpinan dan pertolongan Tuhan
…adalah mengimani kasih Tuhan yang tidak berkesudahan
…adalah menyadari kesetiaan Tuhan yang tidak putus
…adalah belajar melihat muka Tuhan dalam bentuk perhatian teman-teman, saudara, kenalan
…bahkan perhatian dari orang-orang yang belum kami kenal
…adalah belajar menjadi saluran berkat bagi orang lain
Ini sisa kue ultahnya setelah acara ultah denagn temen-temen di kelas.
Dia seneng banget; omanya bisa dateng ke sekolah :)
Posted with WordPress for BlackBerry.
Ini kue ulangtahunnya Ruben yang dibawa ke sekolah untuk dibagi dengan teman-teman kelas dan gurunya.
Posted with WordPress for BlackBerry.
Lagi test WP for BB 1.2. Nyobain upload foto. BTW begitu keadaan meja kerja saya… Something is always smiling ;)
Posted with WordPress for BlackBerry.
Live so that when your children think of fairness and integrity, they think of you (H. Jackson Brown Jr.)
Saya dapat kutipan itu dari twitter hari ini. Habis membaca kutipan tersebut saya mencoba melihat diri sendiri apakah saya bisa jadi contoh ‘fairness and integrity’ untuk anak-anak saya? Berat ya!
Lalu saya mencoba melihat, apakah orangtua saya memberikan contoh itu kepada saya di masa muda saya? Dan jawabannya adalah YA. Ada satu kejadian waktu saya masih SMA (yang masih membekas hingga hari ini) dimana ibu saya memberikan contoh kepada saya apa yang namanya ‘fairness‘.
Jadi waktu saya SMA pernah suatu kali ibu dan saya pergi ke kantor Catatan Sipil JakPus untuk mengurus akte kelahiran (saya lupa persisnya, tapi kalau tidak salah ada hubungannya dengan pemutihan akte kelahiran). Di kantor itu sudah banyak orang yang mengantri di depan meja petugas. Jadi waktu kami datang, kami harus meletakkan akte kelahiran yang mau diproses di tumpukan akte yang sudah ada loket.
Meletakkan berkas juga tidak di atas tumpukan, tetapi harus di bagian paling bawah tumpukan berkas. Petugasnya nanti akan mulai memproses berkas yang di tumpukan paling atas; biar adil ‘kan.
Entah bagaimana, petugasnya tiba-tiba mengambil berkas kami padahal di depan kami masih ada orang yang seharusnya dilayani lebih dahulu. Waktu petugas memanggil nama kami, ibu saya memberitahukan kalau orang di depan kami harus dilayani lebih dahulu, biar kami yang belakangan. Ibu saya juga memberi komentar ke sang petugas kalau “tidak fair dong kalau kami dilayani duluan”. Saya ingat sang petugas agak terbengong mendengar komentar ibu saya, lalu dia memproses berkas orang yang di depan kami.
Setelah urusan kami selesai, saya protes dengan agak marah, kenapa “mama nggak terima aja dilayani duluan; ‘kan kita tidak menyelak? Si petugas yang memilih untuk melayani kita duluan kan?” Dan jawaban ibu waktu itu: “karena itu tidak fair! Itu adalah haknya orang yang di depan kita untuk dilayani duluan, karena dia lebih dulu antri di loket sebelum kita!”
Saya tidak terima penjelasan itu pada saat itu. Tapi setelah beberapa tahun (nggak sebentar lho!) saya menyadari bahwa ibu saya percaya bahwa dengan berlaku adil (fair) tidak selalu akan menguntungkan diri kita, tetapi itu kita harus tetap berlaku adil (fair) ke orang lain. Dan ibu tidak mengajarkannya dengan ceramah, tapi dengan menjalaninya dan memberti contoh pada saya.
Pelajaran itu membekas sampai hari ini. Sejujurnya sich, ibu saya sendiri tidak merasa sedang mengajari saya; yang dilakukannya pada saat itu hanyalah bersikap konsisten dengan apa yang dia percaya. Ibu sendiri sudah tidak ingat dan agak kaget waktu belakangan saya ceritakan kembali insiden itu :-)
My Breadcrumbs is becoming stale and really in need of a facelift… but when?
Lagi coba-coba update blog Breadcrumb lewat WP for Blackberry app.
[Posting awal di Facebook tgl. 2 Des. 2008]
Pagi ini di telepon Ani cerita kejadian selama dua malam kemarin.
Ani lagi flu; terus malam kemarin setelah Ruben selesai berdoa tidur, dia lihat ke Ani yang lagi flu terus dia tanya “mama sakit ya?” Mamanya jawab “Iya, mama flu.”
Tiba-tiba dia lipat tangan lagi dan berdoa sendiri, “Tuhan, mama sakit. Tolong ya. Amin”
Gue seneng banget denger berita ini. Dulu setelah ajarin Ruben berdoa sebelum tidur, gue pernah bertanya sendiri apakah Ruben mengerti artinya berdoa, atau ini hanya sebatas kebiasaan aja ya? Kelihatannya dari kejadian kemarin ini, menurut gue, Ruben mulai mengerti berdoa (mama sakit; Tuhan tolong ya).
Ani cerita juga malam sebelumnya dia lihat mamanya lagi sedih (kenapa sampai Ani sedih, itu cerita lain), terus dia nyanyi lagu Kumbayah (http://tinyurl.com/kumbayah-song) “Mama sick sad, my Lord; Kumbayah…”
Ruben (dulu Orin juga waktu masih 3-4 tahun) sering diajak nyanyi lagu ini sama ibunya kalau mau tidur (bapaknya yang dulu ajarin; sekarang ibunya yang sering ngajakin nyanyi… soalnya bapaknya pulangnya malam melulu, payah!)
[ada paragraf yang dipotong di sini]
Rupanya anak gue sudah belajar berempati :-)
TukangRoti 03:39 on May 27, 2010 Permalink |
Yayy… berhasil!